pemakaman Sang Mursyid

pemakaman Sang Mursyid
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 November 2010

BIOGRAFI KH.MAIMUN ZUBAIR

BIOGRAFI KH.MAIMUN ZUBAIR


Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.

Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.

Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.

Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.

Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara’ yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.

Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Pada tahun kemerdekaan, Beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.

Di pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.

Tanpa kenal batas, Beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.

Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain Sayyid ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.

Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah Al- Mukarromah. Sekembalinya dari Tanah suci, Beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, Belaiau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama’ besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidlowi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau.

Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi Beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat.
Amin.

Jumat, 22 Oktober 2010

layang kangen

Kepada Calon Istriku...

Assalamu'alaikum Wr. Wb....

Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care... Allah selalu bersama kita.

Calon Istriku...
Masihkah menungguku.. .? Hmm... menunggu, menanti atau what everlah yang sejenis
dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?! Menunggu... hanya sedikit orang yang
menganggapnya sebagai hal yang “istimewa”. Dan bagiku, menunggu adalah hal
istimewa. Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari
menunggu. Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat. Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan- Nya, melihat fenomena
kehidupan di sekitar tempat menunggu, atau sekadar merenungi kembali hal yang telah
terlewati. Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran
kosong. Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari “dunia lain” masuk
ke jiwa. Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu. Percayalah bahwa tak selamanya
sendiri itu perih. Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif. Mumpung waktu kita
masih banyak luang. Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga. Jadi waktu kita
untuk mencerahkan ummat lebih banyak. Karena permasalahan ummat saat ini pun
makin banyak.


Karenanya wahai bidadari dunia...
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang. Bukan ku tak ingin, bukan ku tak
mau, bukan ku menunda. Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian
rumit. Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa
negeri ini 'Krisis Akhlak'. Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini. Meski saat ini hidup
untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit. Namun seperti seorang ustadz pernah
mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan. Memberi di saat
kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik. Bahwa kita belumlah hidup jika
kita hanya hidup untuk diri sendiri.


Calon Istriku...
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu. Aku akan datang, tapi mungkin tidak
sekarang. Karena jalan ini masih panjang. Banyak hal yang menghadang. Hatiku pun
melagu dalam nada angan. Seolah sedetik tiada tersisakan. Resah hati tak mampu
kuhindarkan. Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan. Karang asaku
tiada ' kan terkikis dari panjang jalan perjuangan hanya karena sebuah kegelisahan. Lebih
baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan. Keputusan besar untuk datang
kepadamu.


Calon Istriku...
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu. Percayalah
padaNYA, Yang Maha Pemberi Cinta, bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir.
Yakinlah “saat itu” pasti ' kan tiba. Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu. Karena kecantikan hati dan iman yang dicari. Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu.
Karena aura keimananlah yang utama. Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga.
Merasuk dan menembus relung jiwa.


Wahai perhiasan terindah...
Hidupmu jangan kau pertaruhkan. Hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya
demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa
hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur
dalam waktu sekian hari.
Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil. Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua
yang kita inginkan dalam hidup. Pasrahkan inginmu sedalam kalbu pada tahajjud
malammu. Bariskan harapmu sepenuh rindumu pada istikharah di shalat malammu.
Pulanglah padaNYA, ke dalam pelukanNYA. Jika memang kau tak sempat bertemu
diriku, sungguh itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci. Dan kau terpilih menjadi
ainul mardhiyah di jannahNYA.


Calon Istriku...
Skenario Allah adalah skenario terbaik. Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk
kita. Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang merenda hari esok seperti
yang kita harapkan nantinya. Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita
kita.


Calon istriku...
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ' kan menjelang jua. Saat kita akan
disatukan dalam ikatan indah pernikahan. Apa kabarkah kau di sana ? Lelahkah kau
menungguku berkelana, lelahkah menungguku kau di sana ? Bisa bertahankah kau di
sana ? tetap bertahanlah kau di sana . Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum
manismu. Bila waktu itu telah tiba, kenakanlah mahkota itu, kenakanlah gaun indah itu.
Masih banyak yang harus kucari, 'tuk bahagiakan hidup kita nanti...


Calon istriku...
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir. Hatiku terasa kelu dengan
derita yang mendera, kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang. Cinta
membuat hati terasa terpotong-potong. Jika di sana ada bintang yang menghilang, mataku
berpendar mencari bintang yang datang. Bila memang kau pilihkan aku tunggu sampai
aku datang.


Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat. Dan mendo'akanmu agar kau selalu
sehat, bahagia, dan mendapat yang terbaik dari-Nya. Aku tak pernah berharap kau ' kan
merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini. Hanya dengan rasa rinduku padamu,
kupertahankan hidup. Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti
kutelusuri hidup ini. Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau 'tuk dikagumi.
Akulah orang yang ' kan selalu mengagumi, mengawasimu, menjagamu dan
mencintaimu.


Calon Istriku...
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu, hanya bisa merindukanmu. Dan tetaplah berharap,
terus berharap. Berharap aku ' kan segera datang. Jangan pernah berhenti berharap.
Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup.
Bila kau jadi istriku kelak, jangan pernah berhenti memilikiku dan mencintaiku hingga
ujung waktu. Tunjukkan padaku kau ' kan selalu mencintaiku. Hanya engkau yang aku
harap. Telah lama kuharap hadirmu di sini. Meski sulit harus kudapatkan. Jika tidak
kudapat di dunia, ' kan kukejar sang ainul mardhiyah yang menanti di syurga.

Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat, aku takut mungkin diriku terlalu liar
bagimu. Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku, pelarian perasaanku
dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku. Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti
apa yang akan ku hadapi dan apa yang harus kucari dalam hidup.

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini untuk dirimu yang selalu bijaksana. Aku
goreskan syair sederhana ini, untuk dirimu yang selalu mempesona. Memahamiku dan
mencintaiku apa adanya. Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku. Semoga...

Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
(Dewi Khayalan - Daun Band)

Ya Allah... ringankanlah, kerinduan yang mendera. Kupanjatkan sepotong doa setiap
waktu, karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku.
Ya Allah... ampuni segala kesilafan hamba yang hina ini ringankan langkah kami. Beri
kami kekuatan dan kemampuan tuk melengkapkan setengah dien ini, mengikuti sunnah
RasulMu jangan biarkan hati-hati kami terus berkelana tak perpenghujung yang hanya
sia-sia dengan waktu dan kesempatan yang telah Engkau berikan.

Wassalamu'alaikum.

Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya

Ustadz’e nglangak

Rabu, 23 Desember 2009

Duduk Di Ayat Kursi

Duduk Di Ayat Kursi


Jabatan apa yang paling saya dan anda idamkan ? Kalau saya seorang musisi maka akan meniti karir menjadi eksekutif produser atau komposer. Kalau anda seorang kutu buku pasti menginginkan jabatan kecendekiawanan. Seorang politikus pasti mengincar jabatan presiden. Karyawan ya pasti ingin meraih jajaran direksi. Pebisnis tentu ingin menjadi fund manager handal atau pemegang ribuan lot blue chip.

Seorang santri pun menginginkan kenyamanan keustadzan atau kekiayian. Karena menurut kita semua di situlah tempat duduk ternyaman dengan segala kepemilikan eksistensinya. Tapi ternyaman versi apakah gerangan ? nyaman di lidah, nyaman di telinga, nyaman di mata, nyaman di angan-angan, atau sekedar nyaman di pantat di mana kita duduk di kursi itu ?

Dalam Ayat Kursi ( 2 : 255 ) Allah dengan sombong dan otoriter menunjukkan jabatan diri sebagai sosok tunggal eksistensi keilmuan beserta kedudukannya sebagai pemilik seluruh isi langit bumi. Namun dengan sombong pula ternyata kita juga menolak kekuasaanNya dengan cara yang paling linear bertahap dan samar. Mau bukti ?

Pertama ketika kesadaran ruh Ilahiah tersentuh maka spontan kita pasti menjawab Iya, semua milik Allah, seluruh isi langit bumi tak dapat disangkal ! tak terkecuali ! Quran kok dibantah ! kita ini punya apa ! dengan gagahnya kita menjawab. Tapi ketika pertanyaan itu berlanjut menukik tajam, benarkah...? yuk kita uji realitasnya... handphone yang di sebelah kananmu berarti milik siapa ? sedikit gagap kita masih bisa menjawab bahwa ini titipan Allah sebagai kamuflase perasaan memiliki yang mulai muncul....ketika pertanyaan itu berlanjut ...pinjam handphone titipannya ya buat pesan makanan ( maksudnya dijual untuk beli makanan ), secepat kilat kesadaran itu turun pada kesadaran ketubuhan ...lho enak aja ! ini milikku, ini perangkat kerjaku, ini modal intelektual statusku, ini kebutuhanku....

Lalu milik Allah yang mana dong bila setiap orang menganggap gunung, air, tambang, hutan, frekwensi udara, dan segala pernik bumi itu milik pribadi-pribadi ? Semenit yang lalu kita dengan gagah menjawab bahwa semua milikNya tapi dengan pertanyaan sesederhana itu tiba tiba semua berubah menjadi milikku dan ku ku lain yang masih berlapis-lapis.

Lho tapi kan.....tapi ini...tapi itu.....tapi inu...tapi iti...jutaan alasan yang keluar hanya sekedar membolak-balik kata tanpa pernah merubah makna. Aha... ternyata kata " tetapi" memang senjata terhebat sepanjang sejarah hubungan manusia dengan Tuhannya. Kata ini bagaikan perwakilan kata kesaksian penyangkalan iblis terhadap Adam. Api menolak tanah. Sesuatu yang berkobar menolak yang diam. Obor penerang jalan menolak landasan tempat berjalan.
Lalu bagaimana mendudukkan perkara ini biar nggak bikin bingung ? memang gampang - gampang susah persis seperti menyuruh berhenti merokok bagi seorang perokok berat. Seakan akan tanpa rokok dunia kiamat. Mungkin butuh terapi, mungkin butuh denda dan penjara, mungkin butuh hipnotis, atau mungkin butuh baca buku " Bagaimana cara menghentikan kebiasaan merokok ". Semua sah -sah saja.

Tapi ternyata ada cara lain yang lebih mudah dan cepat yaitu berhenti saja mulai detik ini ! nggak usah nawar ! inilah cara yang nggak perlu cara namun efektif. Cara yang nggak perlu cara itu dinamakan niat. Dengan niat kita akan dituntun dan diarahkan untuk menjadi bisa menperoleh segalanya tanpa perasaan memiliki. Kata Rasul niat itu letaknya dalam hati. Tapi hati itu yang mana ? jantungkah ? liver kah ? atau daging dada menthok yang seperti dadanya ayam ini ?

Ternyata yang seputar dada itu sekedar starter pemicu penghubung dari hati yang lebur di alam semesta yang merasuki segala frekwensi, lapisan alam, pusat atom dan inti cahaya. Oleh sebab itu dalam pelajaran tarikh disebutkan sewaktu kecil rasul "dioperasi" oleh malaikat lalu dibelah dadanya, bukan di belah batok tengkoraknya.

Dari jalur ini segala kemengertian masuk baru kemudian mengalir menuju kepala memberi info tentang tugas akan dijadikan apa diri kita di dunia ini. Ia menjadi pembanding dan pengendali budi atas segala tangkapan indera. Namun yang seringkali terjadi, pada perjalanannya indera dengan berbekal tangkapan -tangkapan dari luar diri atau disebut "dunia " merasa percaya diri mulai menggusur peranan ilmu budi atau akhlak ini. Terjadilah kudeta di mana sang indera menguasai seluruh otak dan memenjarakan akhlak menjadi terkucil, kemudian biasa disebut dengan hati kecil nurani.

Dalam keterpenjaraannya, sang nurani terus berteriak lantang walaupun hanya terdengar sayup-sayup oleh sang tubuh.

Dari kudeta inilah orang ingin bereksistensi diri untuk menduduki jabatan atau kursi yang diinginkannya dengan cara diluar akhlak budi dan tak sesuai dengan tugasnya. Kacau deh...akhirnya yang pedagang jadi pendakwah, yang pendakwah jadi politikus, yang politikus jadi pelawak, yang pelawak jadi panutan. Dan karena kelihaiannya, semua orang tersihir yakin akan hal itu.

Juga nggak perlu heran seumpama saya mempunyai referensi agama seperpustakaan lalu tiba -tiba dengan segala keilmuan mengklaim satu-satunya kebenaran, ingin berkuasa, mengawasi sana - sini, curiga kepada manusia lain, sebab, mungkin sebenarnya tugas saya di dunia ini hanya jadi satpam yang memang dibekali insting menyidik, bukan kyai atau ustadz yang dibekali sifat merawat, menyantuni dan berendah hati.

Hei...terus gimana dong kok panjang amir keterangannya...mendudukkannya itu lho...yang penting mendudukkannya...biar nggak tambah rumit...
Lho.. ya langsung aja duduk dalam ayat Kursi...
Maksud loh... !
Iya...langsung duduk duk dan bersiaplah !
Siap apa ?

Orang yang duduk dalam Ayat Kursi harus siap kehilangan eksistensi diri, deeksistensi, fana...tak punya apa -apa. Kata Arek Malang talarem ( bahasa balikan sekenanya dari kata melarat ).
Gawat ajaran apalagi nih...fatal ! eskapisme ya...hilang dong karir gue...

Bbb..bbukan begitu.... Allah itu dengan tegas dan baik -baik kan sudah mbisiki kita bahwa kemuliaan dan keagungan itu milikNya doang, kesombongan itu pakaianNya doang, selain sifat itu silahkan pakai...lha tapi kenyataannya dalam keseharian kita ini lebih sering membusanakan diri dengan kedua sifat pakaian itu. Jadinya ya mirip doang...nggak bisa benar -benar agung dan mulia.

Dengan mencuri sifat itu kita jadi ingin memiliki kandungan bumi langit dengan segala cara. Kita memantas -mantaskan dan mematut diri bahwa kitalah yang berhak mengatur dan memiliki. Padahal seakan -akan dalam ayat Kursi Allah menantang " Kalau kamu ingin sifat itu, coba dulu sifatKu yang lain... "

Dalam "intro" ayat Kursi betapa Allah menunjukkan sifat ngeladeni mahluk terus menerus tidak ngantuk tidak tidur dan pada endingnya tidak ada keberatan secuilpun dalam pemeliharaannya. Wuihh..kalau kita waras berfikir, ternyata kita nggak sanggup untuk tidak tidur dan tidak repot... maka terkaparlah kita di kefanaan itu, fakirlah diri kita, super minderlah diri kita dihadapan kesegalaanNya, nggak ada apa -apanya dengan pengakuan sesungguh-sungguhnya sampai seakan-akan isi otak ini meleleh hancur karena tak kuat menyaksikan kerja Allah yang begitu dahsyat...

Ampun Gusti....wong saya ini sekedar kepingin niru secuil laku Muhammad sang rasul yang begitu perhatian tanpa kenal lelah meladeni segenap mahluk masih jauh dari mirip kok ya terkadang kesusu kepingin menjadi pemimpin umat...Ya Allah berilah kerendahan hati agar tetap jadi makmum yang lurus -lurus saja...karena Engkaulah sejatinya Sang Pemimpin.

Ketika duduk di kefanaan itu dengan sungguh - sungguh biasanya kita akan diperjalankan Allah menuju jabatan dan kedudukan yang benar -benar sesuai dengan kemampuan diri sehingga jabatan itu tak lagi mengandung unsur pengakuan kepemilikan dan ngrepoti dalam arti yang sesungguhnya - bukan sebatas filosofi pikiran atau sekedar pernyataan. Kita akan merasa pede dan enjoy bila ternyata Allah lah yang menyematkan jabatan itu.

Sekali lagi bayangkan.. Allah sendiri yang memberi kedudukan itu dan rasakan kenyamanannya.... Ketakjuban itu jauh melebihi perolehan jabatan menteri hasil dari resuffle kabinet atau jabatan seorang presiden sekalipun. . Dalam wilayah ini memang diciptakan untuk pemenuhan segala kebutuhan setiap manusia dalam menjalankan proses kekhalifahannya. Di sinilah tempat bergelimangnya harta ghaib pengetahuan sejati yang tak akan hilang walau dirampok rezim terganas.

Di wilayah ini orang tidak lagi ribut mengenal kasta golongan petani , pedagang , pejabat atau ulama. Karena mereka yang bertempat di wilayah ini otomatis akan memperoleh seluruh ilmu dari empat lapisan kasta tersebut tanpa butuh sebuah eksistensi pengakuan diri dari luar. Inilah sistem Islam, tak ada kasta ! memerdekakan !

Orang -orang ini tak lagi berebut posisi sebab telah tersadar bahwa jabatan - jabatan beserta pernik ilmu pengetahuannya sekedar jalur -jalur yang ditempatkan dalam diri masing -masing kekhalifahan manusia untuk mengenal Tuhannya. Akhirnya masalahnya menjadi sangat sederhana sekali, kenal atau tidak. Tak lebih.

Ada cara mudah sekali dalam penggunaan ayat Kursi untuk mentransfer ilmu ghaib itu ke dalam diri ( wuih..kayak dukun, sekedar bercanda ) agar keseharian lebih rileks dan dibukakan pengetahuan serta kemengertian akan posisi diri. Awalnya mungkin butuh menyentuh tengah dada dengan jari, kurang lebih yang sejajar persis dengan ketiak. Niatkan kepada Allah ingin mengetahui apa saja yang ingin diketahui atau dibutuhkan. Lalu nikmati saja niat itu bersama Allah semampu waktu yang anda punya...perlahan setelah itu entah sekedip mata, semenit kemudian, sejam, sehari, sebulan atau setahun InsyaAllah apa yang diinginkan datang tanpa harus dengan memeras otak dan keringat secara berlebihan. Cepat dan tidak datangnya keinginan itu biasanya tergantung kesungguhan niat itu sendiri.

Namun sialnya seperti pengalaman saya pribadi, lagi enak -enaknya menyentuh dada...eehhh tiba -tiba nggak tahu kenapa tangan ini kok reflek berpindah menyentuh jidat...plak...lalu memegang pantat...plok...kemudian muncul kebiasaan pikiran liar itu." Plak ! waduh...sudah tanggal tua... plok !...isi dompet nipis....plak ! kerjaan belum kelar...plok ! jatuh tempo.hutang semakin dekat ...

Wahai mahluk yang bernama ekonomi... ! kenapa engkau selalu menggangggu kekhusyukanku... ! Aku pun plak plok plak plok lari bagai kuda mengejar rejeki dengan kacamata hitam yang hanya bisa melihat lurus ke depan...terserah Sang Sais mengendali kuda supaya baik jalannya...

plok...! auww...! cemeti itu menampar pantatku lagi....

Wassalam, semoga bermanfaat