pemakaman Sang Mursyid

pemakaman Sang Mursyid

Senin, 03 Mei 2010

GUSDUR DICINTA DAN DIBENCI


GUSDUR DICINTA DAN DIBENCI

Tulisan ini saya angkat atas kekaguman saya  pada Gus dur sosok ulama, sosok politikus yang sekuler , sosok negarawan . Terkadang saya sendiri kurang setuju terhadap beberapa pola pikir Gur dur yang selalu melawan arus dan cendrung dianggap merugikan umat islam . Tapi itulah Gus dur pola pemikirannya yang  jenius  jauh melesat. Sulit dicerna oleh orang awam seperti saya. Baru beberapa tahun kemudian apa yang dipikirkan Gus dur terbukti kebenarannya. Kejeniusan Gus dur tak lepas dari khazanah bacaan yang terekam dalam otaknya maka tak heran Gus dur mampu menangkap dengan cepat dan cerdas sumber ilmu yang ia pelajari. Kecerdasan inilah yang kemudian oleh warga NU diyakini Gus dur memiliki ilmu LADUNNI (Ilmu yang diperoleh dari Alloh tanpa belajar ) bahkan ada yang meyakini bahwa Gus dur sosok Auliyaillah (wali) hingga saat ini Makam Gus dur di tebuireng masih ramai dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai pelosok di nusantara.
Suatu hari seorang ulama ahli tarekat bernama Syech Nazhim al haqqani berkunjung ke Indonesia dan ditanya oleh jamaah “apakah Gus dur itu wali ? jawab Syech Nazhim al haqqani ‘Lihatlah nanti ketika Gus Dur meninggal, benar saja ketika Gus dur meninggal ribuan orang mengiringi prosesi pemakamannya dan makamnya tak pernah sepi di ziarahi oleh umat yang mencintai Gus dur.

Kelugasan dan kepolosan Gus Dur dalam membuat pernyataan merupakan kekuatan yang dimilikinya , namun tentu saja memiliki implikasi yang negatif bagi orang lain. Aroma mistis spritual selalu melekat dalam diri Gus Dur . Bisikan bisikan yang katanya merupakan “Suara Langit” selalu gus dur kemukakan hal tersebut bagi orang lain dapat diartikan menentramkan atau sebaliknya justru meremehkan dan membuat gerah orang. Gus dur kadang sulit dimbangi dengan langkah langkah taktisnya, sehingga terkesan emosional, meskipun demikian orang berusaha memakluminya  penyampaian gagasan dengan ceplas ceplos  dan humoris merupakan langkah jenius Gus dur melintas batas menembus ketegangan , gus dur sanggup menjalin silahturahim  dengan segala perbedaan perbedaan.
Sebagai politikus dan pejuang Gus Dur selalu dapat membedakan antara urusan politik dan hubungan pribadi. Dia bisa keras, tegas, dan cenderung berkepala batu dalam sikap-sikap politiknya, tetapi selalu menjaga hubungan pribadi melalui silaturahmi yang selalu hangat dan bersahabat. Bukan hanya kawan politiknya yang diakrabi, tetapi lawan-lawan politiknya pun dihormati dengan silaturahmi. Kita tentu masih ingat nama Abu Hasan, pesaing Gus Dur dalam perebutan kursi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU (1994) di Cipasung.
Sebagai calon ketua umum yang menurut berita diskenariokan oleh kekuatan luar  ( alat politik suharto ) untuk menjinakkan NU, Abu Hasan ngotot untuk menjadi Ketua Umum PBNU. Setelah kalah dalam pemilihan yang demokratis di muktamar Abu Hasan tidak mau terima. Dia pun membentuk PBNU tandingan dengan nama KPPNU. Namun berkat dukungan arus bawah dan para kyai kyia kampung  terhadap Gus Dur, meski memakan waktu agak lama, akhirnya KPPNU itu bubar tanpa komunike karena tak bisa bekerja tanpa dukungan umat. Yang mengharukan, setelah KPPNU runtuh dan PBNU di bawah Gus Dur berjaya, justru Gus Dur-lah yang datang pertama kali  bersilaturahmi ke rumah Abu Hasan tanpa mengungkit kelakuan dan cercaan-cercaan pedas yang pernah dilontarkan Abu Hasan terhadap dirinya.
Dirangkulnya Abu Hasan sebagai sahabatnya. Ketika terjadi konflik PKB Jawa Timur yang melibatkan Kiai Fawaid. Saat itu Kiai Fawaid terpilih sebagai Ketua Dewan Syura PKB Jawa Timur, tetapi tidak ada kecocokan dengan Gus Dur dan Ketua PKB Jawa Timur Choirul Anam dalam susunan kepengurusan. Kiai Fawaid merasa hak-haknya sebagai Ketua Dewan Syura hasil musyawarah wilayah (muswil) dilanggar, apalagi Gus Dur sempat marah dan menyatakan tak akan berhubungan lagi dengan Kiai Fawaid.
Pewaris tokoh NU karismatik Kiai As’ad Syamsul Arifin itu pun keluar dari PKB dan bergabung dengan PPP. Pada saat Kiai Fawaid bersikap keras dan resmi menyatakan bergabung ke PPP, Gus Dur tetap menyambung silaturahminya dengan Kiai Fawaid. Pada suatu tengah malam secara mendadak Gus Dur berkunjung ke rumah Kiai Fawaid di Sukorejo meskipun harus menempuh perjalanan darat yang sangat jauh. Gus Dur menghormati pilihan Kiai Fawaid keluar dari PKB dan silaturahmi terus dipelihara.
Pernah suatu ketika Gus dur menjadi presiden mampir kerumah Hanafi Asnan yang waktu itu menjabat Kepala Staf Angkatan Udara , pada waktu itu acara tanam seribu pohon di wilayah madura bersama mentri kehutanan marzuki usman , acara yang di telah di rencanakan oleh protokol kepresidenan tiba tiba gus dur menyelipkan acara berkunjung silahturahim ke rumah Hanafi asnan bangkalan madura, Meski diberi tahu bahwa KSAU Hanafi Asnan tak ikut dalam rombongan, Gus Dur mengatakan bahwa dirinya akan bersilaturahmi kepada ibunya Pak Hanafi , Padahal Gus Dur tak pernah kenal dengan ibunda Hanafi kecuali bahwa Hanafi adalah bawahannya yang berasal dari Madura, bukan main terharunya  Ksau Hanafi asnan bahwa yang mampir menemui ibandanya adalah seorang presiden.
Itulah sisi lain kehidupan Gus Dur yang jarang diperhatikan orang, yakni suka bersilaturahmi kepada siapa pun. Banyak yang meyakini bahwa kegemaran bersilaturahmi tanpa jarak “antara orang besar dan orang biasa” itulah yang mengakibatkan Gus Dur menjadi milik dan dicintai oleh begitu banyak orang.
Gus Dur tak pernah lelah bersilaturahmi kepada siapa pun, mulai dari kota besar sampai ke desa terpencil, mulai dari sahabat karib sampai ke lawan-lawan politik, mulai dari orang-orang besar sampai orang-orang kecil.
Jadi selain karena modal politik- sosiologisnya sebagai tokoh yang berdarah biru NU, kecerdasan dan kepandaiannya yang luar biasa, kehidupannya yang bersahaja, serta keterbukaan dan kesantunannya terhadap semua golongan, perihal kegemaran untuk selalu bersilaturahmi menjadi penguat bagi munculnya keseganan dan kecintaan masyarakat terhadap Gus Dur.
Prof DR kh Said Aqil Siraj pernah bercerita bahwa suatu hari dirinya bersama Gus dur pergi ke Madinah untuk berziarah , waktu malam tiba Gus dur mengajak dirinya berkeliling masjid untuk mencari seorang “Waliyulloh”, setelah berkeliling akhirnya Kh said menunjuk sesorang yang menggunakan imamah dan keningnya hitam bekas sujud ‘”apakah itu wali Gus ? kata Kh said aqil. ” Bukan ….dia bukan Wali ” kata Gus Dus, setelah berkeliling keliling dimasjid madinah Gus dur menghentikan langkahnya dan menunjuk bahwa orang yang di depannya ini adalah wali, sesorang yang hanya menggunakan sorban biasa dan duduk diatas sajadah, lalu kh said aqil meminta kepada orang yang di tunjuk Gus dur wali itu tersebut untuk mendoakan Gus dur dan dirinya, Lalu orang tersebut mendoakan Gus dur agar sukses dan di ridoi , selesai berdoa orang tersebut pergi sambil menarik sejadahnya dan berkata ” Ya Alloh dosa apa saya , sehingga maqom dan  kedudukan saya di ketahui orang. la yariful wali  illa biwalli . wallohu a’lam

Selasa, 02 Maret 2010


FID-DUNYA HASANAH WAFIL-AKHIRATI HASANAH
RODLITU BILLAH ROBBA WABIL ISLAMI DIINA WABI MUHAMMADIN NABIYA WAROSULA WABI SYEKH AHMAD ASRORI AL ISHAQI SYAIKHO WABI JAMAAH AL KHIDMAH ROFIIQO


Kepentingan pembangunan–seperti juga pada jaman revolusi, yaitu kepentingan revolusi–ternyata tidak hanya memerlukan dalil aqli, tapi juga dalil naqli. Apalagi jika masyarakat menjadi subyek–atau obyek–pembangunan justru “kaum beragama”.

Apabila pembangunan itu menitikberatkan pada pembangunan material (kepentingan duniawi), meski konon tujuannya material dan spiritual (kepentingan akhirat), maka perlu dicarikan dalil-dalil tentang pentingnya materi. Minimal pentingnya menjaga “keseimbangan” antara keduanya (material bagi kehidupan dunia dan spiritual bagi kehidupan akhirat).

Maka, dalil-dalil tentang mencari–atau setidak-tidaknya tentang peringatan untuk tidak melupakan–kesejahteraan dunia, pun perlu “digali” untuk digalakkan sosialisasinya.

Tak jarang semangat ingin berpartisipasi dalam pembangunan material-- yang menjadi titik berat pembangunan– ini mendorong para dai dan kyai justru melupakan kepentingan spiritual bagi kebahagiaan akhirat. Atau, setidaknya, kurang proporsional dalam melihat kedua kepentingan itu.

Ketika berbicara tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, biasanya para dai tidak cukup menyitir doa sapu jagat saja: Rabbanaa aatinaa fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah. Biasanya, mereka juga tak lupa membawakan Hadist popular ini: I'mal lidunyaaka kaannaka ta'iesyu abadan wa'mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan, yang galibnya berarti “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan beramallah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. Kadang-kadang, dirangkaikan pula dengan firman Allah dalam Surat al-Qashash (28), ayat 77:“Wabtaghi fiimaa aataakallahu 'd-daaral aakhirata walaa tansanashiebaka min ad-dunya....” yang menurut terjemahan Depag diartikan,“Dan carikan pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi…”.


Umumnya orang–sebagaimana para dainya–segera memahami dalil-dalil tersebut sebagai anjuran untuk giat bekerja demi kesejahteraan di dunia dan giat beramal demi kebahagiaan di akhirat.

Kita yang umumnya–tak usah dianjurkan pun–sudah senang “beramal” untuk kesejahteraan duniawi, mendengarkan dalil-dalil ini rasanya seperti mendapat pembenar, bahkan pemacu kita untuk lebih giat lagi bekerja demi kebahagiaan duniawi kita.

Lihat dan hitunglah jam-jam kesibukan kita. Berapa persen yang untuk dunia dan berapa persen untuk yang akhirat kita? Begitu semangat–bahkan mati-matian–kita dalam bekerja untuk dunia kita, hingga kelihatan sekali kita memang beranggapan bahwa kita akan hidup abadi di dunia ini.

Kita bisa saja berdalih bahwa jadwal kegiatan kita sehari-hari yang tampak didominasi kerja-kerja duniawi, sebenarnya juga dalam rangka mencari kebahagiaan ukhrawi. Bukankah perbuatan orang tergantung pada niatnya, “Innamal a'maalu binniyyaat wa likullimri-in maa nawaa.” Tapi, kita tentu tidak bisa berdusta kepada diri kita sendiri. Amal perbuatan kita pun menunjukkan belaka akan niat kita yang sebenarnya.

Padahal, meski awal ayat 77 Surat sl-Qashash tersebut mengandung “peringatan” agar jangan melupakan (kenikmatan) dunia, “peringatan” itu jelas dalam konteks perintah untuk mencari kebahagiaan akhirat. Seolah-olah Allah– wallahu a'lam– “sekadar” memperingatkan, supaya dalam mencari kebahagiaan akhirat janganlah lalu kenikmatan duniawi yang juga merupakan anugerah-Nya ditinggalkan. (Bahkan, menurut tafsir Ibn Abbas,“Walaa tansa nasiibaka min ad-dunya” diartikan “Janganlah kamu tinggalkan bagianmu dari akhirat karena bagianmu dari dunia”).

Juga dalil I'mal lidunyaaka… --seandainya pun benar merupakan Hadist shahih–mengapa tidak dipahami, misalnya,“Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi.” Nah, karena kamu akan hidup abadi, jadi tak usah ngongso dan ngoyo, tak perlu ngotot. Sebaliknya, untuk akhiratmu, karena kamu akan mati besok pagi, bergegaslah. Dengan pemahaman seperti ini, kiranya logika hikmahnya lebih kena.

Sehubungan dengan itu, ketika kita mengulang-ulang doa,“Rabbanaa aatina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah,” bukankah kita memang sedang mengharapkan kebahagiaan (secara materiil) di dunia dan kebahagiaan (surga) di akhirat, tanpa mengusut lebih lanjut, apakah memang demikian arti sebenarnya dari hasanah, khususnya hasanah fid-dunya itu?

Pendek kata, jika tak mau mengartikan dalil-dalil tersebut sebagai anjuran berorientasi pada akhirat, bukankah tidak lebih baik kita mengartikan saja itu sebagai anjuran untuk memandang dunia dan akhirat secara proporsional (berimbang yang tidak mesti seimbang).

Memang, repotnya, kini kita sepertinya sudah terbiasa berkepentingan dulu sebelum melihat dalil, dan bukan sebaliknya. Wallahu a'lam.

Rabu, 23 Desember 2009

Duduk Di Ayat Kursi

Duduk Di Ayat Kursi


Jabatan apa yang paling saya dan anda idamkan ? Kalau saya seorang musisi maka akan meniti karir menjadi eksekutif produser atau komposer. Kalau anda seorang kutu buku pasti menginginkan jabatan kecendekiawanan. Seorang politikus pasti mengincar jabatan presiden. Karyawan ya pasti ingin meraih jajaran direksi. Pebisnis tentu ingin menjadi fund manager handal atau pemegang ribuan lot blue chip.

Seorang santri pun menginginkan kenyamanan keustadzan atau kekiayian. Karena menurut kita semua di situlah tempat duduk ternyaman dengan segala kepemilikan eksistensinya. Tapi ternyaman versi apakah gerangan ? nyaman di lidah, nyaman di telinga, nyaman di mata, nyaman di angan-angan, atau sekedar nyaman di pantat di mana kita duduk di kursi itu ?

Dalam Ayat Kursi ( 2 : 255 ) Allah dengan sombong dan otoriter menunjukkan jabatan diri sebagai sosok tunggal eksistensi keilmuan beserta kedudukannya sebagai pemilik seluruh isi langit bumi. Namun dengan sombong pula ternyata kita juga menolak kekuasaanNya dengan cara yang paling linear bertahap dan samar. Mau bukti ?

Pertama ketika kesadaran ruh Ilahiah tersentuh maka spontan kita pasti menjawab Iya, semua milik Allah, seluruh isi langit bumi tak dapat disangkal ! tak terkecuali ! Quran kok dibantah ! kita ini punya apa ! dengan gagahnya kita menjawab. Tapi ketika pertanyaan itu berlanjut menukik tajam, benarkah...? yuk kita uji realitasnya... handphone yang di sebelah kananmu berarti milik siapa ? sedikit gagap kita masih bisa menjawab bahwa ini titipan Allah sebagai kamuflase perasaan memiliki yang mulai muncul....ketika pertanyaan itu berlanjut ...pinjam handphone titipannya ya buat pesan makanan ( maksudnya dijual untuk beli makanan ), secepat kilat kesadaran itu turun pada kesadaran ketubuhan ...lho enak aja ! ini milikku, ini perangkat kerjaku, ini modal intelektual statusku, ini kebutuhanku....

Lalu milik Allah yang mana dong bila setiap orang menganggap gunung, air, tambang, hutan, frekwensi udara, dan segala pernik bumi itu milik pribadi-pribadi ? Semenit yang lalu kita dengan gagah menjawab bahwa semua milikNya tapi dengan pertanyaan sesederhana itu tiba tiba semua berubah menjadi milikku dan ku ku lain yang masih berlapis-lapis.

Lho tapi kan.....tapi ini...tapi itu.....tapi inu...tapi iti...jutaan alasan yang keluar hanya sekedar membolak-balik kata tanpa pernah merubah makna. Aha... ternyata kata " tetapi" memang senjata terhebat sepanjang sejarah hubungan manusia dengan Tuhannya. Kata ini bagaikan perwakilan kata kesaksian penyangkalan iblis terhadap Adam. Api menolak tanah. Sesuatu yang berkobar menolak yang diam. Obor penerang jalan menolak landasan tempat berjalan.
Lalu bagaimana mendudukkan perkara ini biar nggak bikin bingung ? memang gampang - gampang susah persis seperti menyuruh berhenti merokok bagi seorang perokok berat. Seakan akan tanpa rokok dunia kiamat. Mungkin butuh terapi, mungkin butuh denda dan penjara, mungkin butuh hipnotis, atau mungkin butuh baca buku " Bagaimana cara menghentikan kebiasaan merokok ". Semua sah -sah saja.

Tapi ternyata ada cara lain yang lebih mudah dan cepat yaitu berhenti saja mulai detik ini ! nggak usah nawar ! inilah cara yang nggak perlu cara namun efektif. Cara yang nggak perlu cara itu dinamakan niat. Dengan niat kita akan dituntun dan diarahkan untuk menjadi bisa menperoleh segalanya tanpa perasaan memiliki. Kata Rasul niat itu letaknya dalam hati. Tapi hati itu yang mana ? jantungkah ? liver kah ? atau daging dada menthok yang seperti dadanya ayam ini ?

Ternyata yang seputar dada itu sekedar starter pemicu penghubung dari hati yang lebur di alam semesta yang merasuki segala frekwensi, lapisan alam, pusat atom dan inti cahaya. Oleh sebab itu dalam pelajaran tarikh disebutkan sewaktu kecil rasul "dioperasi" oleh malaikat lalu dibelah dadanya, bukan di belah batok tengkoraknya.

Dari jalur ini segala kemengertian masuk baru kemudian mengalir menuju kepala memberi info tentang tugas akan dijadikan apa diri kita di dunia ini. Ia menjadi pembanding dan pengendali budi atas segala tangkapan indera. Namun yang seringkali terjadi, pada perjalanannya indera dengan berbekal tangkapan -tangkapan dari luar diri atau disebut "dunia " merasa percaya diri mulai menggusur peranan ilmu budi atau akhlak ini. Terjadilah kudeta di mana sang indera menguasai seluruh otak dan memenjarakan akhlak menjadi terkucil, kemudian biasa disebut dengan hati kecil nurani.

Dalam keterpenjaraannya, sang nurani terus berteriak lantang walaupun hanya terdengar sayup-sayup oleh sang tubuh.

Dari kudeta inilah orang ingin bereksistensi diri untuk menduduki jabatan atau kursi yang diinginkannya dengan cara diluar akhlak budi dan tak sesuai dengan tugasnya. Kacau deh...akhirnya yang pedagang jadi pendakwah, yang pendakwah jadi politikus, yang politikus jadi pelawak, yang pelawak jadi panutan. Dan karena kelihaiannya, semua orang tersihir yakin akan hal itu.

Juga nggak perlu heran seumpama saya mempunyai referensi agama seperpustakaan lalu tiba -tiba dengan segala keilmuan mengklaim satu-satunya kebenaran, ingin berkuasa, mengawasi sana - sini, curiga kepada manusia lain, sebab, mungkin sebenarnya tugas saya di dunia ini hanya jadi satpam yang memang dibekali insting menyidik, bukan kyai atau ustadz yang dibekali sifat merawat, menyantuni dan berendah hati.

Hei...terus gimana dong kok panjang amir keterangannya...mendudukkannya itu lho...yang penting mendudukkannya...biar nggak tambah rumit...
Lho.. ya langsung aja duduk dalam ayat Kursi...
Maksud loh... !
Iya...langsung duduk duk dan bersiaplah !
Siap apa ?

Orang yang duduk dalam Ayat Kursi harus siap kehilangan eksistensi diri, deeksistensi, fana...tak punya apa -apa. Kata Arek Malang talarem ( bahasa balikan sekenanya dari kata melarat ).
Gawat ajaran apalagi nih...fatal ! eskapisme ya...hilang dong karir gue...

Bbb..bbukan begitu.... Allah itu dengan tegas dan baik -baik kan sudah mbisiki kita bahwa kemuliaan dan keagungan itu milikNya doang, kesombongan itu pakaianNya doang, selain sifat itu silahkan pakai...lha tapi kenyataannya dalam keseharian kita ini lebih sering membusanakan diri dengan kedua sifat pakaian itu. Jadinya ya mirip doang...nggak bisa benar -benar agung dan mulia.

Dengan mencuri sifat itu kita jadi ingin memiliki kandungan bumi langit dengan segala cara. Kita memantas -mantaskan dan mematut diri bahwa kitalah yang berhak mengatur dan memiliki. Padahal seakan -akan dalam ayat Kursi Allah menantang " Kalau kamu ingin sifat itu, coba dulu sifatKu yang lain... "

Dalam "intro" ayat Kursi betapa Allah menunjukkan sifat ngeladeni mahluk terus menerus tidak ngantuk tidak tidur dan pada endingnya tidak ada keberatan secuilpun dalam pemeliharaannya. Wuihh..kalau kita waras berfikir, ternyata kita nggak sanggup untuk tidak tidur dan tidak repot... maka terkaparlah kita di kefanaan itu, fakirlah diri kita, super minderlah diri kita dihadapan kesegalaanNya, nggak ada apa -apanya dengan pengakuan sesungguh-sungguhnya sampai seakan-akan isi otak ini meleleh hancur karena tak kuat menyaksikan kerja Allah yang begitu dahsyat...

Ampun Gusti....wong saya ini sekedar kepingin niru secuil laku Muhammad sang rasul yang begitu perhatian tanpa kenal lelah meladeni segenap mahluk masih jauh dari mirip kok ya terkadang kesusu kepingin menjadi pemimpin umat...Ya Allah berilah kerendahan hati agar tetap jadi makmum yang lurus -lurus saja...karena Engkaulah sejatinya Sang Pemimpin.

Ketika duduk di kefanaan itu dengan sungguh - sungguh biasanya kita akan diperjalankan Allah menuju jabatan dan kedudukan yang benar -benar sesuai dengan kemampuan diri sehingga jabatan itu tak lagi mengandung unsur pengakuan kepemilikan dan ngrepoti dalam arti yang sesungguhnya - bukan sebatas filosofi pikiran atau sekedar pernyataan. Kita akan merasa pede dan enjoy bila ternyata Allah lah yang menyematkan jabatan itu.

Sekali lagi bayangkan.. Allah sendiri yang memberi kedudukan itu dan rasakan kenyamanannya.... Ketakjuban itu jauh melebihi perolehan jabatan menteri hasil dari resuffle kabinet atau jabatan seorang presiden sekalipun. . Dalam wilayah ini memang diciptakan untuk pemenuhan segala kebutuhan setiap manusia dalam menjalankan proses kekhalifahannya. Di sinilah tempat bergelimangnya harta ghaib pengetahuan sejati yang tak akan hilang walau dirampok rezim terganas.

Di wilayah ini orang tidak lagi ribut mengenal kasta golongan petani , pedagang , pejabat atau ulama. Karena mereka yang bertempat di wilayah ini otomatis akan memperoleh seluruh ilmu dari empat lapisan kasta tersebut tanpa butuh sebuah eksistensi pengakuan diri dari luar. Inilah sistem Islam, tak ada kasta ! memerdekakan !

Orang -orang ini tak lagi berebut posisi sebab telah tersadar bahwa jabatan - jabatan beserta pernik ilmu pengetahuannya sekedar jalur -jalur yang ditempatkan dalam diri masing -masing kekhalifahan manusia untuk mengenal Tuhannya. Akhirnya masalahnya menjadi sangat sederhana sekali, kenal atau tidak. Tak lebih.

Ada cara mudah sekali dalam penggunaan ayat Kursi untuk mentransfer ilmu ghaib itu ke dalam diri ( wuih..kayak dukun, sekedar bercanda ) agar keseharian lebih rileks dan dibukakan pengetahuan serta kemengertian akan posisi diri. Awalnya mungkin butuh menyentuh tengah dada dengan jari, kurang lebih yang sejajar persis dengan ketiak. Niatkan kepada Allah ingin mengetahui apa saja yang ingin diketahui atau dibutuhkan. Lalu nikmati saja niat itu bersama Allah semampu waktu yang anda punya...perlahan setelah itu entah sekedip mata, semenit kemudian, sejam, sehari, sebulan atau setahun InsyaAllah apa yang diinginkan datang tanpa harus dengan memeras otak dan keringat secara berlebihan. Cepat dan tidak datangnya keinginan itu biasanya tergantung kesungguhan niat itu sendiri.

Namun sialnya seperti pengalaman saya pribadi, lagi enak -enaknya menyentuh dada...eehhh tiba -tiba nggak tahu kenapa tangan ini kok reflek berpindah menyentuh jidat...plak...lalu memegang pantat...plok...kemudian muncul kebiasaan pikiran liar itu." Plak ! waduh...sudah tanggal tua... plok !...isi dompet nipis....plak ! kerjaan belum kelar...plok ! jatuh tempo.hutang semakin dekat ...

Wahai mahluk yang bernama ekonomi... ! kenapa engkau selalu menggangggu kekhusyukanku... ! Aku pun plak plok plak plok lari bagai kuda mengejar rejeki dengan kacamata hitam yang hanya bisa melihat lurus ke depan...terserah Sang Sais mengendali kuda supaya baik jalannya...

plok...! auww...! cemeti itu menampar pantatku lagi....

Wassalam, semoga bermanfaat

Senin, 21 Desember 2009

NAFSU dan EGO Pribadi

Masing-masing dari diri kita memiliki ” kehendak dan peran “ dalam kehidupan untuk menjadi manusia yang hebat dan penuh keagungan. Karena manusia diciptakan dengan potensi keistimewaan memiliki kecerdasan, bakat, ketrampilan dan hati nurani, yang dapat membawa manusia pada keberhasilan dan keagungan. Namun manusia juga dilengkapi dengan nafsu atau ego pribadi. Yaitu, nafsu pada kehidupan dunia. Oleh karena itu, untuk memenuhi keinginan ego dan nafsunya pribadinya, sesungguhnya Tuhan telah menyediakan aturan “rules” atau ketentuan-ketentuan melalui Qalam-Nya yang sudah terhampar memenuhi Jagad Raya ini. Ketentuan inilah yang harus diteladani, ditaati oleh manusia sebagaimana yang kita lihat dan baca di Alam Semesta ini.

Kebanyakan manusia sadar atau tidak sadar seringkali terjebak memperturutkan ” nafsu dan ego pribadi “ untuk dunia semata, dengan mengabaikan “rules” yang telah dicontohkan oleh Alam. Mereka sibuk memenuhi keinginan memiliki kursi jabatan, pangkat, predikat atau kedudukan yang tinggi, dan lain sebagainya. Semua yang diinginkannya berusaha untuk dia dapatkan, bahkan terkadang tanpa memperhatikan lagi suara hati Nuraninya. Mereka merasa hebat dan berhasil dalam kehidupannya kalau sudah memiliki itu semua. Itulah ego manusia yang dikendalikan nafsunya. Inilah yang mengakibatkan terjadinya banyak penyelewengan, penyimpangan, korupsi, penyalah gunaan kekuasaan dan lain sebagainya. Karena pada hakikatnya nafsu itu tidak akan pernah merasa puas. Nafsu menggiring manusia untuk selalu merengkuh dan meraih sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Sifat pengejaran nafsu tak terkendali inilah yang kebanyakan MENYENGSARAKAN dan MEMENJARAKAN manusia.

Ego pribadi dalam tataran yang wajar sebenarnya akan menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri “self-esteem” dan memiliki kepercayaan diri ” self-confidence’. Keduanya merupakan faktor positif dalam meningkatkan kualitas pribadi setiap individu menjadi lebih tinggi. Namun, kalau keduanya berlebihan dalam diri kita, itu akan berubah menjadi kebanggaan “pride” yang sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara kebanggan dan kesombongan ini sangatlah tipis sekali. Ketika berubah menjadi kesombongan, maka akan melahirkan ego pribadi yang merugikan diri kita sendiri. Akan melahirkan nafsu dunia yang dapat menyesatkan. Disinilah kita perlu hati-hati dalam menyikapi ego dan nafsu sang diri.

Kesalahan dalam mengelola hati nurani seringkali mengakibatkan manusia terjebak dalam kehidupan dengan hati yang buta dan mati.

Sungguh sengsara mereka yang hidupnya tanpa diterangi cahaya hati nurani ini. Bagaikan orang yang buta mata indranya, sehingga tidak dapat melihat apa yang ada di depannya. Memiliki hati nurani yang buta tertutup oleh ego pribadi, berarti mereka yang tidak dapat melihat arah kehidupannya kedepan dengan jernih dan tajam. Mereka menjalani kehidupan dengan dikendalikan nafsu dan ego pribadinya kepada dunia yang berlebihan.

Mereka yang nuraninya tertutup, hidupnya menjadi penuh prasangka negatif yang terkadang malah bisa mendorong kita untuk berbuat diluar kendali. Dan, biasanya menjurus kepada perbuatan atau tindakan yang bisa merugikan orang lain. Hati nurani yang dikalahkan oleh nafsu dan ego pribadi mengendalikan pikiran seseorang menjadi buta. Hari-harinya menjadi tidak nyaman, pikirannya menjadi keruh, penuh dengan prasangka negatif. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi kegelisahan hati. Hati dan pikirannya sangat dikendalikan oleh nafsu duniawi, sehingga hidup menjadi sangat melelahkan. Mengejar sesuatu yang seolah-olah tidak ada hentinya, tidak ada habisnya dan merasa serba kekurangan.

Ma'asyirol muslimin semua, marilah kita bertanya kembali kedalam diri pribadi masing-masing, apakah selama ini tanpa sadar atau dengan kesadaran kita telah dikendalikan oleh nafsu dan ego pribadi untuk kepentingan dunia semata ? Apakah selama ini sadar atau tanpa kita sadari kita telah terjebak dalam rutinitas kehidupan yang membutakan hati nurani ? Apakah selama ini kita sudah mendengarkan suara hati kita, ataukah kita cenderung mengabaikan suara hati demi meraih tujuan kehidupan dunia ?

Bagaimana agar diri kita dapat menghidupkan hati nurani sehingga mampu mengendalikan nafsu dan ego pribadi ?. Adakah poro Sanak kadang yang sudah dapat menghidupkan NURANI nya…??. Silahkan berbagi dengan yang lain di sini. Yang penting TANPA saling MENYALAHKAN dan MENYESATKAN apalagi MENGKAFIRKAN…

Jauh dan dekatnya perjalanan


Jauh dan Dekat-Nya Perjalanan



Menundukkan kepala kebawah, adalah merupakan lalu-lintas perjalanan dunia dan akhirat dan melepaskan pandangan adalah merupakan penjara dunia dan akhirat. Penglihatan mata adalah laksana penjara dunia dan akhirat, dalam arti jika penglihatan sering engkau manjakan sedemikian rupa, memandang wajah ayu dan cantik, maka sesungguhnya dibalik wajah ayu dan cantik itu terbukalah pintu-pintu penjara dan engkau berada di dalamnya sebagai penghuni. Engkau akan menuruti segala perintahnya dan akan menjadi budaknya selama-lamanya, maka engkau akan luput dan kehilangan arah dari perjalanan dunia dan akhirat.

Orang-orang yang menoleh kekiri dan kekanan sesungguhnya tidak layak lagi berjalan bersama Allah, karena dia sudah disibukkan oleh ” FIKIRANNYA ” yang tidak menyatu lagi dan bercerai-berai serta tidak lagi patut mendengar perkataan Allah. Pelihara hatimu dari segala jurusan pandangan mata, jika tidak..maka engkau tidak akan lagi dapat memelihara untuk selama-lamanya. Peliharalah matamu, niscaya Allah kan jaga hatimu. Jagalah dirimu dari perbuatan mengumbar ” SYAHWAT ” niscaya Allah kan cukupi HAJATmu. Peliharalah kedua matamu dan serahkanlah semua serta tinggalkan kesemuanya kepada Allah…., bila telah engkau pelihara keduanya, niscaya terperihalah hatimu dalam puri kerajaan-NYA. Yakni sudah tidak lagi terpengaruh oleh pelbagai macam yang menarik perhatianmu juga tidak lagi terpengaruh dan tergoda dari ketidak tetapan, ketidak mantapan. Dan, engkau akan diberi kemampuan untuk mengarahkan dan menghimpun tekad yang kuat dan kemampuan yang teguh. Itulah yang dimaksudkan dengan ” PURI KERAJAAN ” Tuhan Allah semesta alam.

Berulang kali DIA perkenalkan DIRI-NYA padamu, tetapi engkau belum juga mengenal-NYA. Hal yang demikian berarti engkau telah menjauhkan DIRI dari pada-NYA. Engkau sudah mendengar tutur kata-NYA dari lubuk hati sanubarimu yang paling dalam, tetapi engkau belum juga mengetahui bahwa itu adalah tutur kata-NYA, hal yang demikian sama halnya engkau telah menjauhkan DIRI dari pada-NYA. Sebenarnya engkau dapat melihat DIRIMU, sedangkan Allah semesta alam jauh lebih dekat dari dirimu bahkan jauh lebih dekat dari urat lehermu. Itulah pengertian menjauh yang sebenarnya.

Engkau akan tetap tinggal terhijab dengan hijab TABIATMU sendiri, sekalipun sebenarnya telah Tuhan ajarkan padamu ILMU pengetahuan-NYA dan kerap juga engkau mendengarkan segala tutur kata-NYA, hingga engkau berpindah kepada kedudukan bekerja dengan-NYA. Adapun yang berhenti dan berdiri tegak di hadirat-NYA, sesungguhnya engkau telah memasuki tiap rumah yang tiada lagi rumah-rumah yang dapat menampungnya. Engkau sudah merasakan segala macam minuman tetapi masih saja tetap terasa haus dan dahaga. Lalu engkau sampai juga kehadirat-NYA dan DIA adalah tempat tinggalnya dan disisi-NYA adalah tempat penghentian dan berdiri-NYA.

Penghentian untuk berdiri tegak di HADIRAT-NYA adalah dibalik apa yang dikatakan dan MAKRIFAT itu adalah puncak yang dikatakan, sedangkan ILMU Pengetahuan itu adalah apa yang dapat dikatakan.

Bila engkau melihat sesuatu yang selain-NYA, sesungguhnya engkau takkan dapat lagi melihat-NYA.

Janganlah putus harapan dari pada-NYA….Andaikan engkau datang kepada-NYA dengan segala ucapan dan tutur kata yang buruk, maka sesungguhnya ampunan Allah lebih besar. KASIH SAYANG-NYA jauh lebih utama dari pada MURKA-NYA.

Kamis, 17 Desember 2009


Mau Sholat Jum’at Di Mana? (Tanya jawab dengan Habib Lutfi bin Yahya)

Assalamu’alaikum…..

Nuwun Sewu….Saya masih sekolah di SMK N 2 Pekalongan….Saya mau tanya…permasalahan tentang sholat jumat…Di sekolah saya ada musholla….Mushola tersebut di gunakan untuk jumatan setiap hari jumat…jamaahnya dari siswa dan para guru disekolah itu… Saya bingung…..Musholla kok digunakan untuk jumatan..Dan jamaahnya pun bukan mukim…,Saya pernah mempelajari dalam kitab Fathul Qorib kan untuk jamaah Jumat itu harus Mukim…. Terus saya juga bingung jumlah jamaah di sekolah itu ada 40 orang atau tidak…kalau nggak salah kan syarat sah jumat bagi pengikut Imam Syafi’i kan harus ada 40 orang….Kebingungan tersebut masih ada di hatiku…sehingga saya kalau mau jumatan ke Masjid Muhajirin…..

Tolong Minta penjelasan mengenai masalah jumatan tersebut
Terima kasih sebelumnya

Wassalamualaikum……

“Chandra Kurniawan”


Waalaikumsalam Wr.Wb.

Ananda Candra, Saya merasa senang mendapat pertanyaan tersebut, karena hal itu menunjukan perhatian Ananda yang besar terhdap keabsahan ibadah yang Ananda lakukan.

Himah terbesar dari didirikannya shalat Jum’at adalah memperkokoh ukhuwah Islamiyah, maguatkan rasa saling menghormati. Secara terperinci Syekh Abdurahman Al Jaziri mengatakan: “tujuan sholat Jum’at adalah mengumpulkan masyrakat muslim pada satu tempat, untuk beribadah pada Allah. Hal demikian akan menimbulkan rasa saling percaya dalam diri mereka dengan dasar rasa saling menyayangi.

Selanjutnya rasa saling mencintai antar sesama akan tumbuh, lalu akan menimbuhkan kesadaran untuk saling membantu satu sama lain. Dan akan menghilangkan faktor-faktor yang memicu rasa permusuhan. Sehingga satu sama lain melihat dengan pandangan kasiih sayang. Yang kuat akan menolong yang lemah, yang kaya akan membantu yang berkekurangan, yang besar menyayangi yang kecil, yang kecil menghormati yang besar. Semuanya menyadari betul bahwa mereka sama-sama hamba Allah, dan hanya Allah-lah yang Maha kaya dan Maha terpuji…”.

Beliau melanjutkan “… tidak diragukan lagi bahwa mendirikan shalat Jum’at dibeberapa masjid atau dibeberapa tempat tidak akan dapat menggapai hikmah-hikmah tersebut, karena kaum muslimin terpisah-pisah dalam beberapa masjid, sehingga mereka tidak merasakan keistimewaan yang ditimbulkan dari perkumpulan banyak orang ketika shalat Jum’at. Dan mereka tidak merasakan keagungan Yang Maha Penciptra yang mereka sembah satu perasaan yang mudah didapat ketika dilakukan secara berjamaah. Oleh sebab itu A’imah, para imam-imam berkata; jika shalat jum’at didirikan dalam banyak tempat disatu kawasan, tanpa hajat (seperti masjid tidak memadai) maka shalat jum’at yang sah adalah shalat yang paling dahulu melakukan shalat. Mereka yang yakin didahului dalam melaksanakan shalat jum’at oleh tempat lain, harus melaksnakan shalat dzuhur”. Demikian Syekh Abdurahaman menjelaskan (Al Fiqh ‘ala Madzahib Al Arba’ah, jilid I, hal 385).

Selain itu pada masa Rasulullah Saw. Shalat Jum’at hanya didirikan di masjid Madinah padahal di Madinah ada masjid yang tidak jauh. Nah, hikmahnya itu adalah menimbulkan kewibawaan dalam umat Islam, ketika melihat banyaknya kaum muslimin berkumpul. Dan Nabi Saw dan para sahabat tidak pernah melaksanakan shalat jum’at selain di Masjid, padahal Nabi pernah melaksanakan shalat lain secara berjamaah seperti sunat ‘idul Adha ‘Idul Fitri ditempat lain, yaitu dilapangan.

Oleh sebab itu apa yang dilakukan Ananda Canra shalat Jum’at ditempat lain sudah tepat.
Demikian jawaban yang dapat pak Habib berikan.

Sumber Habib Lutfi bin Yahya

Rabu, 16 Desember 2009

Dialog Kuburan

Dialog Kuburan

Kelak di kuburan...

Malaikat : " Apa agamamu ? "
mayit : " Islam ! "
Malaikat " Islam itu apa ?"
Mayit : " Pokoknya I.S.L.A.M ! "
Malaikat : " hmmh...siapa Tuhanmu ? "
Mayit : " Allah ! "
Malaikat : " Siapa Allah ? "
mayit : " Tuhanku ! "

Malaikat jadi mbatin " kok mbulet gini ? "

Malaikat pun balik ke Arasy lapor protes sama Gusti Allah ..

" Duh Gustiiii.....masak tugas saya dari dulu sampe sekarang cuma nanyai milyaran orang dengan pertanyaan yang sama dan hampir dipastikan sebagian besar jawabannya cuma gitu thok ! kok gak ada jawaban yang bersifat tafakur dan dialogis ?

" Bukankkah Engkau menciptakan Adam dan keturunannya sebagai satu2nya mahluk yang punya kemampuan berdialog, berfikir dan merenung ?"

" Bukankah Engkau telah memfirmankan bagaimana Ibrahim mencari Engkau dengan proses yang berliku dan tidak sekedar katanya bin katanya ?

" Tapi kenapa ayat2 itu tidak pernah mereka gunakan sebagai jalan mencarimu ? kenapa mereka lebih sering latah ikut2 an katanya bin katanya ? padahal bukankah dalam firmanMu Engkau melarang orang mengikuti segala sesuatu tanpa disertai pengetahuan didalam dirinya... ?

Tuhan : " Akulah Maha Rahmatan Lil Alamien...semua adalah Made In KU...dan pastilah kembali padaKU...suka atau tidak...terpaksa atau tidak...tahu atau tidak...yang penting biarin aja mereka hidup senang di dunia..dan sesungguhnya kesenangan di dunia hanya satu...La tadmainulqulub ila bidzikrillah..tak kan ada hati yang dapat tenang , bergembira, suka ria..selain tahu dan ingat kepadaKu...
" Masalahnya, apa mereka bisa ingat kalau ketemu dengan Ku saja belum pernah ...?"

" Apakah Sampean Bisa Mengingat Saya Kalau Ketemu Aja Belum Pernah ? "